Pages

Labels

Tampilkan postingan dengan label Intropeksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Intropeksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Agustus 2011

Bangsa yang besar adalah bangsa yang ingat jasa para pahlawannya

Miris lihat "Indonesiaku" saat ini, hal yang paling mudah dilakukan tanpa perlu berfikir, mengeluarkan tenaga dan hanya bermodal uang sedikit adalah memperingati HUT RI setiap tanggal 17 Agustus setiap tahunnya, minimal kita mengibarkan bendera merah putih di halaman rumah kita, nggak perlu yang mahal, terbuat dari sutera dari kertas pun tak masalah, itupun sudah jarang dilakukan, lomba-lomba 17an sepi, karnaval apalagi! Dengan dalih "Puasa" ah..alasan..dulu rasul dan sahabat dikala puasa tetap beraktivitas seperti biasa dimana pahala akan digandakan berlipat ganda, seharusnya peringatan 17an juga suatu bentuk "ibadah" bagi bangsa dan pahlawan kita. So...apa ini akan terus berlanjut ditahun-tahun yang akan datang hanya kalian bangsa Indonesia yang bisa menjawabnya . . . Merdeka. . . Merdeka . . . Tinggal pekik tanpa makna . . . ah...

Senin, 27 Juni 2011

Tentang Senja

Aku lebih suka senja daripada pagi!
Aku juga lebih memuja rembulan daripada matahari!
Senja selalu berani menyambut datangnya malam tanpa peduli akan gelap dan dinginnya keadaan . . .
Tak pernah peduli akan kehilangan cahaya dan kehangatan matahari . . .
Senja tetaplah senja . . .
Tak akan sama dengan pagi . . .
Tak pernah ada yang memuja senja karena silau oleh pesona pagi
Senja, semburat sinarmu tak pernah sama . .
Hadirnyapun tak pernah lama . . .
Tapi buatku, pesonamu tak pernah sirna . .
Aku memuja senja tanpa peduli pesona pagi
Sampaikan ini pada dunia . . .
Yang tenggelam oleh indahnya pagi yang pongah akan silau matahari . . .
Karena didalam pagi hanya ada harapan tanpa sebuah kepastian
Dan hanya senja yang menyimpan jawaban akan seribu pertanyaan . .

Sang Waktu

Ternyata tak mudah menipu waktu,
Dia berjalan tanpa henti, menyapu semua kenangan dan masa lalu
Lalu tersenyum sambil meninggalkan masa depan yang tak terungkapkan
Tapi manusia bukan manusia kalau lelah menghitung hari
Padahal mereka tak tahu apa yang mereka cari . .
Harta, tahta atau wanita ? Jelas! Absolutely Right . .
Itu yang mereka cari! sama sepertiku
hidup cuma sekali dan itu harus berarti . .
Sampai aku bertemu seorang kawan yang bergelut dengan debu jalanan . .
Melukis bumi dengan tangannya dan menggambar hari dengan semangatnya . .
Ketika aku tanya apa yang dia cari . . dia hanya menjawab 1 kata!
"Surga . . . . "
Renungkanlah . . .
Buat Teman, Sahabat dan Murid-murid tercintaku "You are my heaven"

Kamis, 26 Maret 2009

Cermin itu dinamakan "Nyepi"

Pada hari ini dilakukan puasa Nyepi yang disebut "Catur Brata" Penyepian dan terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Brata ini dilakukan sejak sebelum matahari terbit. Menurut umat Hindu, segala hal yang bersifat peralihan, selalu didahului dengan perlambang gelap. Misalnya seorang bayi yang akan beralih menjadi anak-anak (1 oton/6 bulan), lambang ini diwujudkan dengan 'matekep guwungan' (ditutup sangkar ayam). Wanita yang beralih dari masa kanak-kanak ke dewasa (Ngeraja Sewala), upacaranya didahului dengan ngekep (dipingit). Demikianlah untuk masa baru, ditempuh secara baru lahir, yaitu benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam caka/tahun baru pun, dasar ini dipergunakan, sehingga ada masa amati geni.
Intisari dari perlambang-perlambang lahir itu (amati geni), menurut lontar "Sundari Gama" adalah "memutihbersihkan hati sanubari", yang merupakan kewajiban bagi umat Hindu.
Sebenarnya kalau kita mau membuka hati, nyepi harusnya bukan hanya milik umat Hindu tapi bisa menjadi "milik kita" walaupun bukan umat Hindu, refleksi itu adalah kata kuncinya! yha nyepi bisa menjadi cermin buat kita untuk intropeksi dan berbenah diri sudahkah kita menjadi manusia yang katanya merupakan mahluk ciptaan sang Khalik yang paling sempurna?

Jumat, 15 Agustus 2008

mengejar matahari

Ternyata memulai sesuatu yang benar itu sulitnya bukan main! apalagi menjadikannya suatu kebiasaan, dimulai dari menegur dan mengucap  salam pada orang lain yang tidak kita kenal adalah suatu perbuatan yang sangat mudah tapi sulit dilakukan. Apa zaman sudah berubah? hingga suatu adat kebiasaan yang telah turun temurun diwariskan buat kita bangsa Indonesia yang notabene adalah orang timur sudah mulai hilang tergantikan dengan budaya asing dengan label modernisasi! Tak seorang pun bisa menjawabnya termasuk AKU! Jangan pernah korbankan hati nurani demi sebuah modernisasi! kita boleh memuja teknologi, kita boleh mengagungkan apa yang disebut demokrasi tapi jangan pernah kita korbankan martabat diri apalagi menghilangkan jati diri bangsa sendiri! mari kita mulai dari diri kita sendiri untuk lebih menghargai bangsa ini walaupun itu seperti mengejar matahari!